Ada Sosok Misterius di Balik Foto Syur AI, Polisi Dalami Jejak Digital

kacenews.id-CIREBON-Orang tua dari para terduga pelaku penyebaran foto syur hasil editan kecerdasan buatan (AI) terhadap siswi SMA di Cirebon akhirnya angkat bicara.
Melalui kuasa hukum mereka, orang tua terduga pelaku berinisial I dan R menyampaikan kronologis awal bagaimana terjadinya foto editan tersebut.
Ia menyebut, para terduga pelaku awalnya tergabung dalam sebuah grup WhatsApp bernama Spenma Boy, saat mereka masih SMP. Grup ini bukan hanya terdiri dari satu sekolah saja, tapi ada juga anggota grup yang berasal dari sekolah lain.
Dari grup tersebut, seorang anggota misterius mengirimkan 10 foto, terdiri dari 1 foto hasil editan dengan watermark dan 9 foto asli yang belum diedit.
“Terduga pelaku R ini dalam pengaturan WhatsApp-nya menggunakan auto save. Jadi foto otomatis masuk ke galeri. Lalu foto itu sempat hilang dari HP I, sehingga dia meminta lagi ke R. Setelah meminta dari R, I meneruskan foto ke V,” ujar Kuasa Hukum I dan R, Angga Dwisetyo.
Kemudian, pada suatu hari, anak-anak ini menginap di rumah I. Saat semuanya tertidur, ada seorang anak berinisial RZ yang turut menginap di rumah I, meretas HP I, yang diduga kemudian merekam ulang foto editan tersebut menggunakan HP R sendiri.
“Informasi yang kami dapat, RZ inilah yang kemudian menyebarkan ke media sosial,” katanya.
Ia membantah kliennya I dan R membuat dan menyebarkan foto editan tersebut. Sebelum diduga disebarkan oleh RZ, foto editan tersebut hanya menjadi konsumsi pribadi I dan R.
Sementara itu, Gusti, kuasa hukum terduga pelaku berinisial V, menyampaikan bahwa keluarga kliennya kaget atas persoalan tersebut.
“Orang tua kaget, sejujurnya kenapa permasalahan ini menjadi viral, padahal V tidak masuk ke grup Spenma Boy tadi,” ujar Gusti.
Ia menambahkan, V bersama keluarganya siap bekerja sama untuk membuka fakta sebenarnya.
“Kami bersedia untuk mengundang ahli IT meninjau foto-foto yang sudah beredar,” ucapnya.
Penyelidikan
Satreskrim Polres Cirebon Kota sendiri telah melakukan penyelidikan awal terhadap terduga pelaku foto editan bermuatan asusila yang kini tengah menjadi sorotan di Kota Cirebon. Terduga pelaku yang masih berstatus pelajar tersebut dipanggil untuk keperluan klarifikasi.
Kasat Reskrim, AKP Fajri Ameli Putra menyatakan, pihaknya langsung merespons cepat laporan tersebut dengan melakukan penyelidikan awal terhadap sejumlah terduga untuk keperluan klarifikasi.
“Sejak Sabtu, Minggu, hingga hari ini, sudah ada beberapa pihak yang datang untuk memberikan keterangan. Termasuk juga korban yang sudah membuat laporan,” ujar AKP Fajri Ameli Putra, Senin (25/8/2025).
Menurutnya, saat ini baru ada satu laporan resmi yang telah diterima, meski sejumlah korban lain sudah menyatakan niat untuk melapor namun meminta waktu karena kendala jadwal sekolah atau alasan pribadi lain.
Dijelaskan, sebagian korban telah menunjukkan bukti berupa foto hasil editan yang menampilkan wajah mereka disatukan dengan tubuh orang lain dalam pose terbuka. Meski belum semua korban memiliki bukti, polisi tetap membuka ruang seluas-luasnya bagi siapa pun yang merasa menjadi korban untuk melapor.
“Sudah ada beberapa yang bisa menunjukkan bukti. Jadi, kasus ini bisa kami proses lebih lanjut. Untuk sementara, barang bukti berupa foto-foto hasil rekayasa digital sudah kami terima dari korban,” tambahnya.
Namun demikian, pihaknya belum dapat menyimpulkan berapa jumlah pelaku yang terlibat. Ia menyebut, masih perlu pendalaman lebih lanjut mengenai aktivitas yang dilakukan terlapor, apakah terkait produksi, penyebaran, atau penyimpanan konten bermuatan pornografi.
“Statusnya masih penyelidikan. Kami masih mengumpulkan keterangan dari korban, saksi, dan mengkaji unsur-unsur pelanggaran dalam kasus ini,” tegasnya.
Pihak kepolisian juga menegaskan akan terus membuka ruang bagi korban lainnya untuk melapor.
“Kami dari awal menerima laporan ini sangat terbuka dan terus melakukan pemeriksaan terhadap para korban. Kami juga mengimbau, bagi masyarakat atau siapa pun yang merasa menjadi korban, untuk segera melapor ke Polres Cirebon Kota,” ujarnya.
Minta Maaf
Sementara itu, orang tua dari para terduga pelaku kasus penyebaran foto syur hasil editan kecerdasan buatan (AI) terhadap siswi SMA di Kota Cirebon melalui kuasa hukumnya, menyampaikan permintaan maaf secara terbuka di salah satu kafe di Kota Cirebon, Senin (25/8/2025) malam.
“Kami meminta maaf sedalam-dalamnya atas perilaku atau diduga dilakukan oleh klien kami yang tidak baik,” kata kuasa hukum terduga pelaku berinisial I dan A, Angga.
Pihaknya memahami kerugian yang dialami korban dan berharap permintaan maaf itu dapat diterima.
“Meskipun kami sadari bahwa perilaku klien kami salah, kami berharap para korban bisa menerima permintaan maaf ini,” ucapnya.
Angga menjelaskan, kasus ini bermula dari grup WhatsApp bernama Spenma Boy. Dari grup itu, seorang anggota misterius mengirim 10 foto, terdiri dari satu foto hasil editan ber-watermark dan sembilan foto asli.
Terduga pelaku A yang mengaktifkan fitur auto save otomatis menyimpan foto ke galeri ponselnya. Foto itu kemudian hilang dari ponsel I, sehingga ia meminta ulang kepada A lalu meneruskannya kepada V. Dari situ, jumlah foto bertambah hingga 25.
“Foto-foto tersebut kemudian tanpa sepengetahuan terduga pelaku direkam ulang oleh RJ dan AG, dua remaja yang menginap di rumah I. Informasi yang kami dapat, RJ inilah yang kemudian menyebarkan ke media sosial,” jelas Angga.
Sementara itu, kuasa hukum V, Gusti, menyampaikan bahwa keluarga kliennya juga telah meminta maaf secara langsung kepada korban.
“Orang tua V berusaha meminta maaf kepada para korban. Kami pun kaget kenapa permasalahan ini viral, padahal V tidak masuk ke grup Spenma Boy,” ujar Gusti.
Ia menambahkan, pihaknya siap bekerja sama dengan pihak berwenang untuk mengungkap fakta sebenarnya. “Dengan kerendahan hati, klien kami meminta maaf dan bersedia mengundang ahli IT untuk meninjau foto-foto yang sudah beredar,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, keluarga korban editan foto asusila tetap akan melanjutkan persoalan ke ranah hukum. Meskipun telah dilakukan mediasi antara keluarga korban dan keluarga pelaku, namun tidak menemukan jalan keluar alias deadlock.
Mediasi dilakukan pada Senin (25/8/2025), dengan dihadiri oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Cirebon.
Editan foto bermuatan asusila ini telah menjadi sorotan di Kota Cirebon. Tiga pelaku yaitu I, R, dan V adalah pelajar di salah satu SMA di Kota Cirebon, sementara korban diduga berjumlah puluhan orang.
Aksi tiga pelajar ini telah dilakukan sejak ketiganya masih SMP. Foto editan bermuatan asusila ini menggunakan kecerdasan buatan atau AI, di mana mukanya adalah muka korban, sementara badannya diedit dengan muatan asusila.(Cimot/Jak)
Pointer
-Kasus foto syur AI bermula dari grup WhatsApp Spenma Boy, ada sosok misterius yang mengirimkan foto editan dan foto asli.
-Terduga pelaku I dan R menyimpan foto secara otomatis karena fitur auto save. Foto kemudian diteruskan ke V.
-Saat menginap di rumah I, remaja lain berinisial RZ/RJ diduga merekam ulang foto dan menyebarkannya ke media sosial.
-Kuasa hukum menegaskan kliennya tidak membuat atau menyebarkan foto, hanya menyimpannya.
-Kuasa hukum V menyatakan kliennya kaget karena tidak termasuk anggota grup WA tersebut.
-Orang tua para terduga pelaku menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada korban.
-Polisi sudah menerima laporan resmi dari salah satu korban, lainnya masih menunggu waktu.
-Barang bukti berupa foto editan sudah diserahkan ke kepolisian.
-Status kasus masih tahap penyelidikan, polisi dalami kemungkinan pelanggaran produksi, penyimpanan, atau penyebaran konten asusila.
-Mediasi antara keluarga korban dan pelaku deadlock, kasus tetap berlanjut ke ranah hukum.