Warga Kampung Wates Lestarikan Tradisi Wakare

kacenews.id-MAJALENGKA-Warga Kampung Wates Desa Jatisura Kecamatan Jatiwangi Kabupaten Majalengka peringatan HUT RI dengan dua agenda yakni melakukan pemindahan replika rumah bilik serta melakukan doa bersama usai solat Asar di halaman balai kampung, kegiatan diselenggarakan satu hari menjelang Hari H, seperti pada Sabtu (16/8/2025).
Perayaan HUT RI yang dilakukan warga Wates ini mungkin berbeda dengan warga lainnya di Kabupaten Majalengka yang biasanya menyambutnya dengan kemeriahan melalui beragam acara, aneka permainan yang mengundang suka ria dan gelak tawa.
Menjelang siang hari semua warga Kampung Wates, mulai anak – naka hingga orang dewasa pergi dari rumahnya sambil membawa ternak, padi dan sejumlah perabotan rumah tangga. Sejumlah pria menggotong dua replika rumah bilikberukuran kurang lebih 2 m X 2 m yang bagian atapnya telah terpasang reng bambu sebagai pijakan genteng.
Mereka semua keliling kampung sambil mengarak kedua rumah tersebut yang menggotongnya dilakukan secara bergantian.
Apa yang dilakukan warga tersebut menurut keterangan salah selorang tokoh masyarakat Kampung Wates Dikdik Junaedi, adalah festival gotong rumah, sebagai pengingat peristiwa di masa penjajahan dulu yang mereka sebut “wakare”.
“Acara menggotong trumah ini disebut wakare, di jaman penjajahan dulu warga pergi meninggalkan tempat tinggal dengan membawa rumah, karena dulu semua rumah berasal dari bilik, tiangnya berasal dari bambu atau kayu, sehingga ketika pindah rangkanya bisa digotong dibawa serta pindah,” ungkap Dikdik.
Pindahnya rumah atu mengungsi ini untuk menghindari adanya peluru nyasar, berhubung pada masa itu, pasukan Jepang dikonsentrasikan di dekat kampung mereka, yang saat ini menjadi markas TNI Lanud Sugiri Sukani, letaknya tidak begiti jauh dengan kampung mereka hanya berjarak beberapa ratus meteran saja. Di bagian seberangnya lagi atau sebelah kampung nereka adalah markas PETA.
Menurut Dikdik di Tahun 1943 atas inisiatif kepala desa , Sayim, semua warga Kampung Wates melakukan wakare ke Dukuh Pusing untuk menghindari boma tau peluru Dai Nipon. Jarak kampung Wates dengan Dukuh Pusing sendiri cukup dekat hanya beberapa ratus meteran, namun lokasinya dianggap aman dari kemungkinan adanya bom atau peluru yang ditembakan para tentara Jepang.
“Setelah Jepang kalah, tepatnya Tahun 1947 semua penduduk Kembali ke Wates, hingga sekarang. Dulu katanya warga menempati Dukuh Pusing hanya saat malam hari, sedangkan, di siang hari beraktifitas, bertani dan beternak tetap dilakukan di Wates ,” katanya.
Sementara itu, festival gotong rumah, sebagai pengingat bagaimana dulu karuhun mereka melakukan wakare, serta yang terpenting adalah menunjukan sikap gotong royong warga yang harus terus ditanamkan kepada semua warga.
“Festival gotong rumah yang kami lakukan setiap tahun jelang perayaan HUT RI semacam napak tilas , menunjukan kepada generasi penerus, bahwa karuhunnya dulu menjalani masa pahit berada pada tekanan penjajah hingga harus berpindah tempat, namun sikap gotong royongnya sangat kuat,” ungkap Dikdik.
Sementara itu Kepala Desa Jatisura Agus Rusdianto mengungkapkan, di Kampung Wates, sejak mulai menikmati kemerdekaan hingga sekarang selalu melakukan doa bersama jelang HUT RI yang diselenggarakan di halaman Balai Kampung.
Semua laki – laki dewasa berkumpul untuk memanjatkan doa sambil sukuran diberikan kemerdekaan dan berusaha mengisi kemerdekaan dengan cara masing masing. Sedangkan kaum perempuan menyiapkan aneka makanan, baik makanan ringan maupun berat seperti nasi dan lauk pauknya untuk dimakan usai memanjatkan doa dan sisanya dibawa pulang.
“Semua ibu – ibu membawa makanan untuk dikelola oleh panitia, ada yang punya wajit menyetor wajit, ada opak, rengginang, kue apsar hingga urab dan sebagainya. Semua makanan yang dikirim ibu – ibu kemudian dikemas, dibungkus plastic keciul – kecil untuk dibagikan setelah berdoa. Kegiatan ini dilakukan setiap tahun sejak jalam dulu nenek moyang kami ada,” ungkap Agus yang mengaku akan terus mendukung warganya menyelenggarakan festival bahkan ekdepan diharapkan bisa menjadi daya taris wisata.(Tat)