Sering Tergerus Banjir, Jembatan Rinjani Ambles
kacenews.id-CIREBON-Jembatan Rinjani yang berada di Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, ambles. Untuk itu, mobil dengan muatan dua ton ke atas dilarang melintas. Sementara, motor dan mobil kecil masih diperbolehkan lewat.
Amblesnya Jembatan Rinjani ini diduga kuat karena sering terjadi banjir di Sungai Cikalong, sungai di mana jembatan tersebut melintang.
Berdasarkan pantauan, antara struktur jembatan dan jalan ada gap beberapa sentimeter, dan ini sangat membahayakan pengendara. Jembatan ini merupakan akses alternatif yang cukup ramai menuju kota dari berbagai perumahan.
Jalannya sendiri sudah terdapat retakan aspal yang cukup parah, sehingga pihak DPUTR Kota Cirebon memasang plang bertuliskan “Hati-hati Jalan Berlubang” pada sisi jalan. Akibatnya, kendaraan harus antre, salah satunya bila berpapasan.
Beberapa pembatas jalan plastik berwarna oranye-putih yang sudah pudar warnanya diletakkan untuk menutup area yang rusak agar tidak dilintasi kendaraan.
Salah seorang warga Perum Lobunta, Iwan Kurniawan mengatakan, sebetulnya sudah 10 tahun lebih Jembatan Rinjani ini rusak tanpa perbaikan. Padahal, beberapa kali pejabat pernah meninjau Sungai Cikalong untuk melakukan pengerukan sungai. Dan kondisi jembatan ini luput dari perhatian.
“Iya, pejabat hanya melakukan pengerukan sungai padahal Jembatan Rinjani sudah rusak parah. Akhir tahun lalu, Kang Dedi Mulyadi juga ninjau sungai ini dan sudah melihat langsung jembatan tersebut. Mudah-mudahan, ada perbaikan sesegera mungkin. Ini untuk kenyamanan masyarakat yang melintas,” ujarnya.
Sementara itu, Pemkot Cirebon sendiri telah mengusulkan bantuan anggaran ke Pemprov Jabar maupun pusat untuk perbaikan Jembatan Rinjani. Pasalnya, anggaran dari Pemkot Cirebon pada tahun hun 2026 ini tidak dapat membiayai perbaikan jembatan yang diperkirakan bisa mencapai Rp10-15 miliar.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Cirebon, Rachman Hidayat mengakui bahwa kemampuan APBD Kota Cirebon belum memungkinkan untuk membiayai pembangunan jembatan tersebut secara mandiri.
“APBD Kota Cirebon belum mampu menanggung pembiayaan pembangunan jembatan secara mandiri. Oleh karena itu, pemerintah daerah memilih untuk membagi prioritas pembangunan infrastruktur dan mengajukan bantuan pendanaan ke tingkat yang lebih tinggi,” ujar Rachman.
Menurutnya, jika anggaran hanya difokuskan pada satu proyek besar, maka pembangunan infrastruktur lain akan terabaikan. Karena itu, Pemkot memilih strategi berbagi prioritas sambil mencari dukungan dari pemerintah di atasnya.
“Kalau hanya menyelesaikan satu jembatan saja, otomatis jembatan yang lain tidak akan kebagian anggaran. Makanya, kita bagi-bagi dan jembatan kita coba usulkan ke provinsi maupun ke pemerintah pusat,” ucapnya.
Rachman berharap ada alokasi dana dari pemerintah pusat pada April mendatang. Ia menilai, bulan tersebut kerap menjadi momentum munculnya anggaran inpres dari Jakarta yang bisa dimanfaatkan untuk proyek strategis daerah.
“Mudah-mudahan, bulan April nanti bisa dimasukkan anggarannya. Apalagi Jembatan Rinjani ini berhubungan dengan jalan nasional, jadi bukan hanya jembatannya saja, tapi juga perbaikan Jalan Rinjani mudah-mudahan bisa diselesaikan,” jelas dia.
Harapan serupa disampaikan Asisten Administrasi dan Pemerintahan Sekretariat Daerah Kota Cirebon, Arif Kurniawan.
Ia mengindikasikan pembangunan Jembatan Rinjani berpeluang direalisasikan pada 2026 melalui Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Kami mengindikasikan bahwa pembangunan Jembatan Rinjani dapat direalisasikan pada tahun 2026 oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Informasinya paling cepat mudah-mudahan di atas tanggal 10, setelah tanggal 10,” kata Arif.
Di sisi lain, kondisi fisik jembatan saat ini kian mengkhawatirkan. Arif menyebut, struktur Jembatan Rinjani sudah tidak lagi aman dilintasi kendaraan dengan muatan berat.
“Kini, keadaan jembatan tersebut sudah tidak kuat dilewati oleh kendaraan yang memiliki muatan 2 ton, sebab sisi kiri dan kanannya sudah mulai ambles,” ujarnya.
Sementara di lokasi jembatan tersebut, kerusakan parah memang terjadi di struktur jembatan yang sudah ambles, kemungkinan tergerus banjir yang tiap tahun melanda Sungai Cikalong di bawahnya. (Cimot)





