Dukungan APBD Masih Minim, Target Nol Stunting Terancam Gagal
kacenews.id-KUNINGAN-Target zero stunting atau nol kasus balita gagal tumbuh di Kabupaten Kuningan hingga akhir Desember 2025 terancam tidak tercapai. Meski berbagai upaya dilakukan lintas dinas dan elemen masyarakat, jumlah penerima manfaat program penanganan stunting masih mencapai 870 orang, terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, dan balita yang mengalami gagal tumbuh.
Padahal, penanganan stunting di Kuningan melibatkan 16 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang secara teknis diharapkan mampu menekan angka kasus hingga tuntas. Namun, data di lapangan menunjukkan meskipun ada penurunan, kasus baru terus bermunculan di wilayah berbeda.
Kondisi tersebut umumnya disebabkan kurangnya asupan gizi bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Faktor ekonomi menjadi kendala utama bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang empat sehat lima sempurna. Akibat keterbatasan itu, sebagian besar masyarakat hanya mampu bertahan dengan menu seadanya, sehingga upaya pencegahan stunting belum optimal.
Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Kuningan terus berupaya menekan angka stunting melalui berbagai program lintas sektor. Salah satu dinas yang cukup aktif adalah Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskannak), yang rutin menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita penderita stunting. Namun, program tersebut baru dapat dilakukan sekali dalam setahun karena keterbatasan anggaran.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Kuningan, H. Asep Taufik Rohman, melalui Kepala Bidang PSDT, H. Dadang Budiana, mengakui minimnya dukungan dana menjadi kendala utama dalam pelaksanaan program tersebut.
“Anggaran yang dikucurkan dari APBD tahun 2025 untuk stunting hanya Rp 150 juta. Jika dibelikan paket makanan, jumlah penerima manfaat menjadi sangat sedikit, apalagi programnya hanya sekali setahun. Padahal kebutuhan gizi sesuai menu kesehatan harus dipenuhi setiap hari,” ujar Dadang, Rabu (12/11/2025).
Pihaknya berharap pada tahun 2026 mendatang, anggaran dapat ditingkatkan agar penanganan bisa lebih intensif.
“Kami berharap anggaran tahun depan minimal Rp 500 juta, syukur jika bisa lebih, agar pemberian makanan tambahan bisa dilakukan tiga sampai empat bulan sekali. Kalau hanya setahun sekali, mustahil masalah stunting bisa tuntas. Kalaupun turun, akan muncul lagi penderita baru dengan nama dan alamat berbeda,” tutur Dadang.
Gerakan 3 G
Sebagai langkah konkret, Diskannak Kuningan juga menggencarkan Gerakan 3 G, yaitu Gerimis (Gerakan Minum Susu), Gematel (Gerakan Makan Telur), dan Gemarikan (Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan). Program ini digelar di Aula Balai Desa Babakanjati, Kecamatan Cigandamekar, belum lama ini.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kampanye percepatan penurunan angka stunting yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kuningan dengan melibatkan 11 desa di wilayah Cigandamekar. Dalam kesempatan itu, sebanyak 870 penerima manfaat menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berupa susu, telur, serta olahan ikan seperti abon, kerupuk, ikan beku, dan nugget ikan dari bahan ikan tawar.
Gerakan ini diharapkan dapat memperbaiki asupan gizi masyarakat, sekaligus menumbuhkan kesadaran pentingnya konsumsi protein hewani sebagai upaya mencegah balita gagal tumbuh di Kabupaten Kuningan.(Sul)



