Pendidikan

Kurangi Sampah, Pesantren Hamalatudzikra Gagas Gerakan Santri Generasi Zero Waste

kacenews.id-CIREBON- Pesantren Hamalatudzikra di Desa Japura Kidul, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, kini tampil sebagai pionir gerakan peduli lingkungan. Melalui inisiatif bertajuk Santri Generasi Zero Waste (Santri Gen-Z), pesantren ini memelopori langkah nyata dalam mengurangi sampah dan menanamkan kesadaran hidup berkelanjutan kepada para santri.

Gerakan ini secara resmi diluncurkan pada Selasa (26/8/2025) bersamaan dengan kegiatan Bakti Pesantren Kejaksaan Negeri Kabupaten Cirebon. Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati Cirebon H. Agus Kurniawan Budiman, Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Cirebon Yudhi Kurniawan, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Cirebon Teguh Rusiana Merdeka, perwakilan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Cirebon, KNPI, serta ratusan santri dan pengurus pesantren.

Pelopor gerakan ini, Hj. Siti Qori’ah yang juga Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU Kabupaten Cirebon, menegaskan, Santri Gen-Z bukan sekadar program seremonial, tetapi gerakan berkelanjutan.

“Target kami dalam satu tahun ke depan, minimal sampah di pesantren berkurang 40 persen. Santri akan terbiasa menggunakan tumbler, sampah organik diolah jadi kompos, maggot, hingga pakan entog,” katanya.

Menurutnya, gerakan ini dirancang dengan indikator terukur. Misalnya, 90 persen santri menggunakan tumbler untuk mengurangi plastik sekali pakai, produksi kompos mencapai 50 kilogram per bulan, serta pengolahan 20 kilogram sampah organik setiap minggu dengan bantuan maggot. Selain itu, pesantren juga menargetkan budidaya 20 ekor entog dengan memanfaatkan pakan hasil daur ulang.

Wakil Bupati Cirebon, H. Agus Kurniawan Budiman, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurutnya, pesantren bukan hanya pusat pendidikan agama, melainkan juga agen perubahan sosial.

“Kalau pesantren sudah bicara lingkungan, maka akan melahirkan generasi santri yang peduli bumi. Ini sejalan dengan misi pemerintah daerah untuk mendorong pola hidup sehat dan berkelanjutan,” katanya.

Kepala Kejari Kabupaten Cirebon, Yudhi Kurniawan, juga mengapresiasi langkah inovatif ini. Baginya, keterlibatan santri dalam gerakan zero waste merupakan langkah strategis membangun kesadaran hukum dan sosial sejak dini.

“Hidup tanpa sampah bukan hanya soal kebersihan, tapi juga kepedulian sosial. Karena sampah yang tak dikelola berdampak pada lingkungan dan masyarakat,” ucapnya.

Antusiasme tampak dari para santri yang mengikuti kegiatan ini. Mereka dikenalkan cara memilah sampah, mengolah limbah organik menjadi pupuk kompos, hingga memberi makan maggot sebagai bagian dari ekosistem ramah lingkungan.

Dengan metode yang sederhana namun aplikatif, para santri diharapkan mampu membawa kebiasaan baik ini ke lingkungan rumah masing-masing.

Dewan pengasuh Pesantren Hamalatudzikra, KH. Abdul Hadi, menyebut inisiatif ini sebagai tonggak penting. “Santri belajar agama, sekaligus belajar menjaga bumi. Ini dua hal yang tak bisa dipisahkan, karena merawat lingkungan juga bagian dari ibadah,” katanya.

Gerakan Santri Gen-Z diharapkan menjadi model bagi pesantren lain di Cirebon bahkan di Jawa Barat. Dengan kombinasi edukasi agama dan kesadaran lingkungan, pesantren mampu melahirkan generasi santri yang tidak hanya cerdas secara spiritual, tapi juga tanggap terhadap tantangan perubahan iklim dan persoalan lingkungan global.

“Harapan kami, gerakan ini bukan berhenti di Hamalatudzikra, tapi menyebar ke pesantren lain. Kalau ribuan santri terbiasa hidup tanpa sampah, maka perubahan besar bisa kita capai,” kata Hj. Qori’ah.(Is)

 

Related Articles

Back to top button